Oz is here to help you

Contoh Terjemahan

CONTOH TERJEMAHAN DI BIDANG EKONOMI

English-Indonesia

ESTIMATING RESULTS OF HEDONIC HOUSING PRICE MODELS

In this paper, hedonic housing price functions take into account both spatial effects and neighborhood effects. Our results indicate that the inclusion of accessibility variables and neighborhood characteristics doesn’t take all the spatial effects into account. Considering the fact that a neighborhood variable can be used to model the impact of the housing urban policies on the residential pattern of the COMADI, we have underline the role played by the social housing programs developed during the sixties and the seventies. If the negative influence of the D-Districts on the housing price spreads out towards the CBD, then the positive effect produced by a better accessibility to the Conservation Area is reduced.

MEMPERKIRAKAN HASIL DARI MODEL HARGA PERUMAHAN HEDONIS

Dalam makalah ini, fungsi harga perumahan hedonis dipertimbangkan kepentingannya baik efek ruangnya maupun efek lingkungannya. Hasil penelitian kami menyatakan bahwa masuknya variabel aksesibilitas dan karakteristik lingkungan tidak menjadikan seluruh efek ruang sebagai hal yang penting. Mempertimbangkan adanya fakta bahwa suatu variabel lingkungan dapat digunakan untuk meniru dampak dari kebijakan urban perumahan pada pola hunian dari COMADI, kami telah menggaris bawahi peran yang dimainkan oleh program-program perumahan sosial yang dikembangkan pada tahun enampuluhan dan tujuhpuluhan. Jika pengaruh negatif dari D-Districts pada harga perumahan menyebar ke arah CBD, maka terjadi pengurangan pada efek positif yang diproduksi oleh suatu aksesibilitas yang lebih baik pada Wilayah Konservasi.

Taken from

SPATIAL EFFECTS IN HOUSING PRICE MODELS

DO HOUSING PRICES CAPITALIZE URBAN DEVELOPMENT POLICIES

IN THE AGGLOMERATION OF DIJON (1999) ?*

Catherine Baumont

Université de Bourgogne

France


CONTOH TERJEMAHAN DI BIDANG PSIKOLOGI

English-Indonesia

On the Meaning of Gratitude

Gratitude defies easy classification. It has been conceptualized as an emotion, an attitude, a moral virtue, a habit, a personality trait, or a coping response. The word gratitude is derived from the Latin root gratia, meaning grace, graciousness, or gratefulness. All derivatives from this Latin root “have to do with kindness, generousness, gifts, the beauty of giving and receiving, or getting something for nothing” (Pruyser, 1976, p. 69). The object of gratitude is other-directed—persons, as well as to impersonal (nature) or nonhuman sources (e.g., God, animals, the cosmos; Solomon, 1977; Teigen, 1997). Although a variety of life experiences can elicit feelings of gratitude, prototypically gratitude stems from the perception of a positive personal outcome, not necessarily deserved or earned, that is due to the actions of another person. Gratitude has been defined as “the willingness to recognize the unearned increments of value in one’s experience” (Bertocci & Millard, 1963, p. 389), and “an estimate of gain coupled with the judgment that someone else is responsible for that gain” (Solomon, 1977, p. 316). The benefit, gift, or personal gain might be material or nonmaterial (e.g., emotional or spiritual).

Arti dari Rasa Syukur

Rasa syukur membantah adanya klasifikasi yang mudah. Rasa syukur telah terkonsep sebagai suatu emosi, suatu sikap, suatu sifat moral (yang baik), suatu kebiasaan, suatu sifat kepribadian, atau suatu tanggapan yang mengatasi (sesuatu). Kata gratitude diambil dari akar Latin gratia, yang berarti rasa syukur, keluwesan, atau kebersyukuran. Semua kata jadian dari akar Latin ini “berhubungan dengan kebaikan, kedermawanan, pemberian, keindahan dari memberi dan menerima, atau mendatangkan sesuatu tanpa tujuan apapun” (Pruyser, 1976, p. 69). Objek dari rasa syukur adalah other-directed-persons (orang yang diarahkan pikiran dan tindakannya terutama oleh norma eksternal bukannya oleh skala nilai dari dirinya sendiri), seperti halnya pada sumber impersonal [tidak berwujud manusia] (alam) atau sumber bukan manusia (contoh, Tuhan, hewan, kosmos; Solomon,1977; Teigen, 1997). Walaupun suatu variasi pengalaman hidup dapat menimbulkan perasaan syukur, secara bentuk dasar rasa syukur berasal dari persepsi suatu hasil pribadi yang positif, tidak harus pantas untuk diterima atau didapat, dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan (yang dilakukan) oleh orang lain. Rasa syukur telah diartikan sebagai “kerelaan untuk mengakui adanya ’kenaikan gaji yang diterima tanpa bekerja’ dari nilai dalam pengalaman seseorang” (Bertocci & Millard, 1963, p. 389), dan “suatu perkiraan keuntungan yang digabungkan dengan pendapat bahwa ada orang lain yang bertanggungjawab terhadap keuntungan tersebut” (Solomon, 1977, p. 316). Manfaat, pemberian, atau keuntungan pribadi dapat berupa material atau nonmaterial (misalnya, emosional atau spiritual).

Taken from

Counting Blessings Versus Burdens: An Experimental Investigation of

Gratitude and Subjective Well-Being in Daily Life

Robert A. Emmons Michael E. McCullough

University of California, Davis University of Miami

Journal of Personality and Social Psychology 2003, Vol. 84, No. 2, 377–389

Copyright 2003 by the American Psychological Association, Inc.

0022-3514/03/$12.00 DOI: 10.1037/0022-3514.84.2.377


CONTOH TERJEMAHAN DI BIDANG MANAJEMEN

Indonesia-English

BANK DAN PEMBANGUNAN YANG MERATA

Secara tradisional, peran bank adalah menjadi perantara keuangan (financial intermediary), pendorong arus lalu lintas pembayaran (payment traffic flow accelerator) dan instrumen kebijakan moneter (monetary policy instrument). Peran bank-bank setelah krisis (disubsidi) di Indonesia seharusnya lebih dari sekedar tradisional, tidak hanya cukup menjadi agen pembangunan. Seharusnya bank-bank ini menjadi agen pemerataan pembangunan atau agen pemerataan pendapatan/modal/kesejahteraan. Hal ini cukup masuk akal mengingat pembangunan pada sektor, area, dan kelompok target tertentu (rakyat miskin/ekonomi rakyat) telah diabaikan. Ini disebabkan karena adanya ketidak-tepatan pembagian sumber-sumber keuangan ke sektor-sektor perbankan yang memperpanjang ketimpangan struktural antara si miskin dan si kaya, antar sektor ekonomi, bahkan antar daerah di Indonesia.

BANK AND EQUITABLE DEVELOPMENT

The role of banks, conventionally, is to be financial intermediary, payment traffic flow accelerator, and monetary policy instrument. In the context of banks after the crisis (subsidized) in Indonesia, the role of banks should be more than just conventional. It is not enough just to be the agent of development. They have to be the agent of equitable development or the agent of income/asset/wealth distribution. This does make sense considering that the development on certain sector, area, and target group (poor people/people economy) has been ignored. This is caused by misallocation of financial resources to banking sectors, which sustains structural imbalance between the poor and the rich, inter-sector economy, even interregional in Indonesia.

Taken from

Menggugat Ketidakseimbangan &

Ketidakadilan Ekonomi Nasional

Menganalisa masalah BBM yang rumit dan defisit APBN

Mubyarto (Editor)

Ainun Na’im

Awan Santosa

Edy Suandi Hamid

Hudiyanto

Revrisond Baswir

Perpustakaan UGM

Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) – UGM

2005

Untuk Anda, kami memberikan penawaran yang menarik. Silahkan klik (Special Offer)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: